Search
Close this search box.

Security Berkedok Premanisme Diduga Dipelihara MIN 2 Pringsewu: Main Tangan ke Jurnalis Wanita, Tantang Aturan Kemenag

PRINGSEWU – Di tengah masa transisi kepemimpinan yang seharusnya membawa perbaikan, justru muncul kisah kelam yang mencoreng nama baik lembaga. Sebuah dugaan praktik keamanan berkedok premanisme terungkap di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Pringsewu, Jumat (31/7/2026).
Security Berkedok Premanisme Diduga Dipelihara MIN 2 Pringsewu: Main Tangan ke Jurnalis Wanita, Tantang Aturan Kemenag

Kejadian bermula ketika tim media menjalankan tugas jurnalistik sebagai garda pengawas sosial di lokasi. Dengan santun dan berpegang pada kode etik, wartawan menyapa petugas yang berjaga: “Izin, Pak. Kami dari media, apakah boleh bertemu pihak madrasah?”

Bukannya mendapat pelayanan baik, jawaban yang diterima justru berbelit. Sang petugas beralibi Kepala Madrasah (Kamad) sedang menerima tamu. Namun, ketika ditanya asal tamu tersebut, ia bungkam seribu bahasa. Hal ini memicu kecurigaan adanya upaya menutupi fakta, seolah-olah ia tampil sebagai “pahlawan kesiangan” demi menutupi kemungkinan ketidakhadiran pimpinan. Pertanyaan pun mengemuka: seberapa besar upah yang diterimanya hingga rela berkorban memasang badan?

Temuan lain mencuat dari ketidaklengkapan atribut. Petugas tersebut tidak mengenakan seragam lengkap maupun kartu identitas resmi yang berlaku, jauh dari citra petugas keamanan yang profesional.

Puncaknya terjadi ketika salah satu jurnalis wanita duduk di pos keamanan. Alih-alih bersikap humanis dan ramah sesuai tugasnya, petugas itu justru menunjukkan watak kasar bak preman. Ia sempat mendorong jurnalis wanita tersebut hingga hampir tersungkur. Korbannya pun berteriak kaget: “Jangan kasar dong, Pak, apalagi saya wanita!”

Percekcokan tak terelakkan saat rekan media merekam kejadian tersebut sebagai bukti sah. Alih-alih introspeksi, petugas itu justru melontarkan tantangan berapi-api: “Silakan adukan ke Kemenag, saya tidak takut!” Ucapan ini menyiratkan kesombongan seolah memiliki payung kekuasaan yang kuat di balik punggungnya.

Menariknya, suasana di masa kepemimpinan mantan Kamad, Sarifudin, berjalan aman tertib. Namun, sejak berganti pucuk pimpinan, madrasah justru dilanda badai masalah. Hal ini memunculkan dugaan bahwa birokrasi baru belum mampu memimpin secara adil dan sejahtera, bahkan muncul isu ketidakberesan dalam pengelolaan anggaran.

Pemandangan yang memilukan juga terlihat saat petugas keamanan tersebut makan dengan santai di hadapan tamu dan wali murid tanpa rasa segan, mencederai tata krama yang seharusnya menjadi cermin lembaga pendidikan.

Merespons hal ini, desakan menggelinding agar Kemenag Kabupaten Pringsewu segera turun ke lapangan. Diperlukan pembinaan mendalam serta tindakan tegas; jika perlu, buanglah oknum yang berkedok preman demi menjaga kehormatan institusi.

Selain itu, dikalangkan pula agar Asbujapi dan Polda Lampung turun tangan. Mengingat penggunaan atribut yang mengatasnamakan kepolisian pada seragam satpam, perlu ada penegakan aturan yang tegas hingga pencabutan izin bagi yang melanggar, agar tidak disalahgunakan menjadi tameng kesewenang-wenangan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ditemukan tanggapan maupun konfirmasi dari pihak madrasah maupun Kemenag setempat.

Redaktur: Eddy Reyhan
Jurnalis: Ika Mulyani
DL: PWRI Lampung

#BeritaPringsewu #SatpamPremanisme #MIN2Pringsewu #KemenagPringsewu #KekerasanWartawan #PerlindunganPers #PelanggaranAturan #Lampung #PWRI #PenegakanHukum

Share this post :

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *